Video Pendek Megawati yang meminta bantuan untuk memenangkan Jagoannya di Putaran Kedua Nanti. Megawati menghimbau masyarakat agar tak membawa isu sara, karena pilgub bukan ajang untuk memilih pemimpin agama, melainkan pemimpin pemerintahan.
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, pedoman bersama ceramah di rumah ibadah tidak terlepas dari masukan dan keluhan masyarakat. Setidaknya ada empat hal yang dikeluhkan masyarakat selama ini.
Ia mengatakan, pertama, materi ceramah cenderung membesar-besarkan persoalan furuiyyah yang tidak prinsipil. Sehingga berpotensi menimbulkan sengketa di antara umat beragama. Bahkan, ada juga penceramah yang menghadapkan persoalan pada klaim kebenaran, bahwa yang satu benar dan yang lain salah.
"Padahal hal itu termasuk bukan masalah pokok agama dan terdapat keragaman pandangan ulama di dalamnya," kata Lukman dilansir Republika dari laman resmi Kemenag, Ahad (19/3).
Ia menyampaikan, yang kedua, materi ceramah menyalah-nyalahkan umat agama lain. Ceramah yang menyalah-nyalahkan agama tidak dibolehkan. Menurutnya, agama justru menganjurkan untuk berkata bersih, tidak perlu mengatakan orang lain kotor. Di tengah kemajemukkan bangsa, hal ini menjadi sesuatu yang harus dihindari. "Jadi tidak perlu menyalah-nyalahkan agama lain untuk mengatakan kita yang paling benar," ujarnya.
Kemudian yang ketiga, dikatakan dia, materi ceramah keagamaan yang sudah memasuki wilayah politik praktis. Menurutnya, diperlukan kesepakatan bersama para tokoh agama, apakah ceramah di rumah ibadah berupa ajakan untuk memilih si A dan larangan memilih si B dengan beragam alasan menjadi bagian dari dakwah atau justru masuk ujaran kebencian yang diskriminatif. "Ini tentu yang harus disepakati bersama," ujarnya.
Ia mengatakan, yang keempat, keluhan terkait materi ceramah yang menyalah-nyalahkan ideologi negara. Misalnya mengatakan Pancasila sebagai sesuatu yang salah dan harus diperangi, menghormati bendera sebagai perbuatan syirik dan sejenisnya.
"Ini dalam konteks keindonesiaan, menurut hemat saya harus betul-betul dihindari oleh siapapun ketika dia sedang berceramah, apalagi di rumah ibadah," jelasnya
Suatu ketika tokoh munafik Abdullah bin Ubai meninggal dunia, kemudian putranya datang kepada Nabi Muhammad SAW agar mau menshalatkan ayahnya, dan saat itu Nabi menyanggupinya. Ketika Nabi datang dan bersiap mengimami shalat jenazah, saat itu muncul pertanyaan dari sahabatnya Umar bin Khattab. Umar bertanya berdasarkan surat At Taubah ayat 80 yang isinya bahwa dimohonkan ampun atau tidak itu sama saja, Allah tidak memberikan ampunan kepada kaum munafik. Bahkan jika memohon ampun tersebut dilakukan sebanyak 70 kali, tetap Allah tidak mengampuni mereka karena telah inkar kepada Allah dan Rasul-Nya.
Mendengar pertanyaan tersebut, maka Nabi menjawab ia akan menambah istighfarnya lebih dari 70 kali, hal tersebut sesuai dalam penjelasan dalam Tafsir Ibnu Katsir. "Ini menandakan betapa sayangnya Nabi kepada umatnya. Bahkan kepada orang kafir yang meninggal sekalipun Nabi ikut bersedih, sedih buka karena kekafirannya tetapi karena belum sempat mengislamkannya," jelas Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq saat pengajian di Pesantren Agrikultural Markaz Syariah Bogor, Jumat (10/3/2017).
Kata Habib, keterangan tersebut sering dijadikan dalil oleh kelompok-kelompok yang membolehkan menshalatkan jenazah orang munafik. Di ayat tersebut Allah belum memberikan larangan secara tegas. Namun, masalah ini tidak berhenti disitu, ada ayat berikutnya. "Jadi kalau memahami ayat jangan separuh, baca kelanjutan ayatnya," katanya.
Habib Rizieq melanjutkan, setelah kejadian itu turunlah ayat berikutnya yaitu At Taubah ayat 84 yang isinya agar jangan lagi menshalatkan orang munafik, bahkan menziarahi kuburannya pun dilarang. Hal tersebut dikarenakan mereka sudah nyata inkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mati dalam keadaan fasik. "Dan setelah turun ayat ini sampai akhir hayatnya, Nabi tidak lagi menshalatkan orang munafik," jelasnya.
Habib menambahkan, dalam konteks hukum Islam, ini yang disebut Nasikh Mansukh, At Taubah ayat 80 sudah dimansukh, artinya hukumnya tidak berlaku lagi, diganti hukumnya oleh At Taubah ayat 84.
"Kemudian, masih dalam tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa jika Nabi diundang menshalatkan jenazah yang belum terlalu dikenal, niscaya beliau akan bertanya dahulu. Jika si jenazah adalah Muslim yang baik maka Nabi menshalatkan, tetapi sebaliknya jika orang tersebut buruk agamanya maka Nabi mendatangi keluarganya dan menyerahkan kepada keluarga untuk mengurusinya dalam rangka memenuhi fardu kifayah, setelah itu Nabi pulang (tidak menshalatkan) dan para sahabat mengikuti," tambahnya.
Lalu bagimana jika sifat munafiknya tidak ketahuan, maka kata Habib Rizieq, jenazah tersebut tetap dishalatkan, sementara munafiknya urusan Allah. "Tetapi yang munafiknya jelas kelihatan, sudah dinasihati ulama malah melawan, dia fasik secara terang-terangan, maka tidak boleh dishalatkan," jelasnya.
"Maka itu, kita jangan menyalahkan kalau ada ulama yang tidak mau menshalatkan jenazah yang misalnya mati bunuh diri atau sedang maksiat secara terang-terangan. Itu hak ulama yang harus dihormati, dan jangan dipaksa. Ulama penting punya sikap, khususnya ulama panutan, sikap ulama tersebut memberikan pesan efek jera, sehingga orang tidak sembarangan melakukan maksiat karena takut tidak dishalatkan, maksudnya jangan sampai ada yang berani maksiat lagi," tambahnya.
Kata Habib Rizieq, sama seperti di Jakarta saat ini, jangan kaget kalau ramai di berita ada sejumlah DKM Masjid yang tidak mau menshalatkan orang munafik yang mendukung calon pemimpin kafir. "Keputusan pengurus masjid dan masyarakat itu sah-sah saja. Dan ini jadi pelajaran, karena masalah kepemimpinan ini urusan besar," tandasnya.
Pengguna media sosial dikejutkan beredarnya sebuah video pendek tentang curhatan seorang ibu.
Dalam video itu terlihat seorang ibu berjilbab ungu yang sedang diwawancarai sejumlah orang.
Dari informasi yang dihimpun dalam percakapan tersebut, diketahui awalnya ibu itu berada di balaikota untuk menyampaikan sepucuk surat yang hendak disampaikan untuk Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja
Perempuan yang mengaku bernama Alpiyah ini menceritakan bahwa ijazah anak pertamanya, Marwan sejak tiga tahun terakhir ini masih ditahan pihak sekolah.
Ia mendatangi balaikota karena upayanya ke sekekolah tidak membuahkan hasil.
Beberapa kali mencoba mendatangi pihak sekolah, namun ijazah itu urung diberikan sementara anaknya sedang sangat membutuhkan untuk syarat administrasi sekolah.
"Kalau nggak dikasih-kasih saya mau minta fotocopian saja soalnya anak saya dimintai ijazah mau buat ujian. Kata orang ini pak Arifnya sudah keluar. Lhoh, saya tanya Ijazah kan adanya di sekolahan? Enggak, dibawa (pak Arif) buk. Nah kemudian saya dikasih nomornya pak Arif. Ditelponlah. Sudah berapa kali saya telpon sms iya-iya katanya mau datang ke sekolahan. Ternyata sampai sekarang nggak di kasih," ucap ibu itu seperti terekam dalam video..
Ia kemudian menceritakan juga saat menanyai sejumlah pegawai yang sedang makan di sekolah tersebut, namun ia malah ditanya pilih siapa saat Pilkada.
Saat itu Alpiyah menjawab pilih Ahok. Namun menurutnya, setelah bilang begitu pihak sekolah memberikan tanggapan yang tidak mengenakkan.
"Ibu kalau pilih Ahok ijazahnya nggak saya kasih," ucap perempuan itu menirukan.
"Idih ijazahnya apaan pak, saya sekolah nggak gratis. Saya sekolah bayar, saya bilang begitu," sambungnya.
Video itupun menyita perhatian netizen dan dengan cepat tersebar di media sosial.
Banyak netizen yang menyayangkan sikap sekolah yang dinilai tidak profesional.
sans-serif;">Ada juga netizen yang mengaku tetangga ibu tersebut dan mengatakan cerita itu benar adanya.
@rezatama24 tenangga gw nih, namanya Ibu Apiah. Bener ini video bukan settingan. Pihak sekolahnya jahat !!
@dimisandif nah lho ? Urusan ijazah kok sampai ke pilkada ? Tolong guys diramein nih biar clear yg mana yg benar. Tidak habis pikir lho.
@ArganiBagas Pilkada menang atau kalah sebenernya hal biasa, sepele tapi masa harus sampe segininya sih, kok gue gedeg ya
@AdelineFiona berpolitik boleh pak guru tp hargai jg pilihan orang ,mngkn gurunya sdh lama ga pelajari Budi pekerti
Ramai publik membicarakan jabat tangan antara Gubernur DKI Jakarta berstatus Terdakwa Penistaan Agama Basuki Tjahaja Purnama dengan Raja Salman. Di saat yang sama diopinikan Habib Rizieq Shihab terpinggirkan dan seolah-olah tak dianggap oleh Raja Salman. Padahal ada satu hal menarik soal "keterkaitan" Sang Raja dan Ketua Dewan Pembina Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI itu.
Di Riyadh, Arab Saudi ada sebuah kampus bernama King Saud University yang menjadi salah satu kampus terbaik di sana. Tak cuma bereputasi bagus, universita ini juga almamater bagi sejumlah anggota keluarga Kerajaan Arab Saudi.
Habib Rizieq pernah mencicipi kuliah di King Saud University dengan mengambil Jurusan Studi Agama Islam (Fikih dan Ushul). Habib Rizieq dapat kuliah di sana karena mendapat beasiswa dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI) saat ia baru belajar setahun di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) pada 1983.
Empat tahun lamanya ia menempuh pendidikan di King Saud University. Pada 1990, Habib Rizieq dinyatakan lulus, lengkap dengan predikat cumlaude.
Habib Rizieq menetap di Arab Saudi selama tujuh sampai delapan tahun. Setelah lulus dia tak langsung pulang ke Tanah Air, tapi mengajar di Riyadh. Pria kelahiran 24 Agustus 1965 itu baru kembali ke Indonesia pada 1992. Diketahui, dia juga pernah kuliah untuk mengambil S-2 dan S-3 di Universitas Antar-Bangsa Malaysia.
Di masa Habib Rizieq belajar dan mengajar, Riyadh dipimpin oleh seorang gubernur bernama Salman yang kini menjadi raja. Jadi, Raja Salman dan Riyadh bukanlah hal baru bagi Habib Rizieq. Dan tak perlu heboh hanya karena bersalaman saat menyambut Sang Raja.